Goblok!

Sos…!!
Tolong… tolong!
Aku tersel dalam kegelapan
Dengan tembok nafsu yang tebal
Aku gerah…
Aku tak betah…
Disini sumpek dan pengan sekali

Hai…!
Bukakan aku pintu!
Ehm, kudengar suara dari luar
“Mana bisa, kunci kau bawa sendiri..”
Aku tersadar
Hanya aku yang bisa
Membuka pintu sendiri
tapi peringatanmu sobat
sangat berharga.

Tempel’95

Hakekat

Kubayangkan aku hadir
Ketika Yesus pertama kali
Bertemu Petrus
Dan menamakannya “batu Karang”

Kulihat peristiwa itu terjadi
Bukan dimasa lampau
Namu… sekarang
Aku tak hanya menonton saja
Aku menaggapi
Akuk ikut serta

Seperti Petrus
aku ingat hari ketika
yesus memanggil aku juga
lalu Petrus mengungkapan
perasaannya dan ketakutannya
Ia menghadapi mati dini hari

Suara panggilan terus mengumandang
Setiap hari diabawanya aku entah
Kemana…
Baru ku tahu kemudian
Aku dipanggil untuk apa
Hari ini…

Suara yang menyapa Petrus
Di tepi danau
Suara yang menyapa Paulus
Di tepi danau
Menyapa aku juga saat ini
“Mari… engkau akan Aku utus,”

Kurasa kau mendengar suara itu
Menggema dalam hatiku
Tak tahu aku dipanggil kemana
Tapi kukenal suara itu
Dan kuberikan jawabanku…

Salatiga’90

Kangen

Betapa aku cari
rumput - rumput hijau
kepak burung mengejar surya
diatas bukit ini

Menguak sepi demi sepi
di sela semak kering
yang tandus dan keras
jalan setapak mendaki

Tak juga desir angin
gerak bayangan
dirimu yang terus
melebarkan angan-angan
ikut menanjak tinggi

Betapa aku cari
di sela batu – batu
di dalam gumpalan katamu
merenungi! Engkau yang terhampar disana
jauh di bawah
kaki dan lembah


Semeru’93

Kita Pernah Salah

Batu nisan yang kita tanam dulu
sepertinya tak mampu mewakili
hati kita yang nyata
bahkan dia tersenyum mengejek kita
yang tlah salah menanam pohon cinta
diantara reruntuhan hati…
diantara keraguan jiwa…

Mungkin, kita baru menyadari atau
kita tak pernah sadar tentang kenyataan
yang tergambar dari batu nisan kita

Seharusnya…
Kita cabut bersama dan
kita tanam pohon dari tunas yang berkas
dan kita pellihara hingga kita
mampu berteduh dibawah kerindangan
daun cintanya

Namun…
Batu nisan yang tlah kita tanam
semakin lama semakin berlumut dan
semakin lama semakin gersang
membuat kita tak betah berlama-lama
diam dalam cintanya yang terbias
yang kita tanam bersama



Cemoro Sewu’93

Maaf

Di tinkungan menjelang
Gerbang barat kota
Masih kami ingat sorot matanya
Tajam penuh sikap
Masih kami catat tutur katanya
Sejuk penuh hikmat

Masih kami ingat ikal rambutnya
Tergerai dalam debu dan darah
Masih kami hafal khobatnya
Masih kami kenang perumpamaanya
Masih kami simpan mukjizatnya

Kini…
Di tikungan itu
Kami mcuma bisa meratap dan berdoa
Engkau yang rahmani
Kini tersalib mati
Aku tlah menyalibkan Engkau
Sebab aku hanya dapat berkata
Ya, akulah Yudas Iskariot!

Jetis, 92

Mantenan

Berdir memandang laut Mu Tuhan
diam – diam engkau turunkan sauh
ke pelabuhan dalam hatiku

Sebuah kapal malaekat
telah singgah berlabuh
dan mencatat hari – hariku yang pergi

Kian dekat buritan mimpiku
ranum helai – helai waktu yang kutinggal

Setelah ombak dan buih
bergegas meninggalkan pantai dan dermaga
kamanakah kasih,
terbang burung indah itu?

Berdiri membaca langit Mu Tuhan
aku hanya sebutir biji Mu
yang tumbuh menenun kehidupan
dan benang – benang kasih Mu

Semarang’02

Mbuh!

Ada bahasa menyembunyikan kata
dan menidurkan pada rumput ilalang

Siul asing terpelanting dari pohon
lalu pecah menjadi kalimat
dalam daun-daun

Ada percakapan purba kini
ungkapan yang tersimpan didasar
serta bisik-bisik
yang tersirat dijagat
demikian langit dan bumi
hembusan kata yang misteri
dengan bahasa yang tak kukenal

Tat kala memandang kedalam
diriku hanyalah sebuah titik terapung
diantara gelombang
rahasia yang sulit aku terjemahkan
dengan bahasa


Sindoro’92

Munafik

Burung kecil itu mulai bernyanyi kembalil
di depan jendelamu,
“Usirlah dia,” katamu
biar saja ia bernyanyi diantara bunga-bunga jambu
sedang kita tak bisa bernyanyi
sebab terlalu jauh menapsir mimpi
selalu gugup melihat bayang-bayang sendiri
kita tak pernah bernyanyi, hanya
diam-diam mempertaruhkan masa depan
kemarinpun ia tlah bernyanyi
tepat ketika kau buka jendelamu

Sebab tlah dibangun sebuah sarang
bagi telur-telurnya sedangkan
kita selalu curiga
terhadap kasih alam, selalu ingin
membebeaskan diri dari jala
yang berkembang lembut
biarkan saja ia bernyanyi
takkan dinganggunya rencana kita hari ini

Ia hanya bernyanyi tak pernah ia tahu
bahwa, seseorang kadang ingin memisahkan
diri dari dirinya sendiri
burung kecil itu mulai bernyanyi kembali
jangan takut: smoga anak-anak yang kau lahirkan
bisa lebih mengenal dirinya sendiri


Pondok’93

Pasarean

Pondok kecil di desa terpencil
tak pernah sepi suara tembang
senandung kidung bocah dolanan
sejuk rasa dalam senyum

Pondok putih taman bunga
bunga putih bunga kamboja
dada mekar memandang angin

Kan kutanam bunga
kusiran air surga
penyejuk sukma
agar nanti indah ajalku

Pondok putih
bunga putih
bocah dolanan
menyatu dalam rumah Bapa


Tekelan’93

Naturalis

Kaum pecinta gua garba gaib
Hutan serta gunung
Imam-imam angkasa tahu
Apa artinya kebudayaan
Apa artinya mistik
Apa artinya perbincangan yang mendalam

Olah nalar dan olah rasa
Olah sastra dan olah gerak
Menjadi keyakinan pribadi
Selaku hasil sekian banyak sarasehan
Dalam malam-malam bulan purnama
Ditengah alam yang masih buas
Tetapi yang juga yang masih murni
Yang seolah-olah memohon
Agar hukum rimba,
Mendapat penciptaan kembali secara baru
Memperoleh permahkotaannya dalam
Hukum kebudayaan : Manusia
Mahkluk paling tinggi dipersada bumi
Paling sadar tentang jati diri
Serta cinta bahasa.

Semeru’93

Nisbi

Siapa didalam aku
Siapa didalam ia
Bekerja tak putus-putusnya

Siapa didalam aku
Yang didalam ia
Terasing sendiri
Hidup disepi kami

Aku rapuh dia goyah
Tapi selalu dikuatkan
Ketika merasa sentausa
Dengan takabur kami tendang ia

Siapa…
Yang tidak selalu ketawa
Ketika kami ketawa
Yang mendengar tangis kita
Dengan sabar

Dia…
Terus membisu,
Terus merencana,
Bekerja diam-diam
Tak kan pernah bisa
Kumunculkan benar-benar kepermukaan


Kali Kuning’93

Pasrah

Membiarkan pikiran mengelana
sementara waktu merangkak
antara kemarin dan esok

Membiarklan sepi menggila
sementara pagi menjelang
antara kampung halaman dan kota tujuan











Membiarkan harapan mengembang
membiarkan hari lewat tanpa rencana
membiarkan hati putih tanpa rahasia

Membiarkan keikhlasan menggenang
menerima yang mustahil ditolak
menemukan hikmah dari beban

Magelang’93

Penantian

Dipenghujung waktu yang tak terbatas
Selalu dan pasti bahwa
Seseorang akan datang
Tapi, sepertinya aku masih enggan
Dan kadang pintu tak aku buka
Tapi desaran jiwa dan
Desaran rasa…
Memaksa aku untuk berbendah

Kuambil jiwa dan hatiku
Lalu kuperas dan kubilas
Agar hilang dan bersih dari
Rasa suka dan nestapa
Rasa salah dan menang
Rasa gagal dan congkak


Lalu kupasang pada tempat
Yang lebih baik dari dulu
Dan lebih terasa deburan
Jiwaku… hatiku… dan hidupku
Tapi, sepertinya penantianku
Terasa sia-sia
Dan jiwaku kembali
Muspro dan mubasir

Jogja’95

Pertemuan

Ini selalu mengundang rinduku
setiap kali katamu membuat haru
karena kita tak pernah menyentuh waktu

Duduk di beranda
ngomong – ngomong
bukan tentang cinta yang tak terwujud
bukan tentang perjuangan yang berat
juga bukan tentang banyak arti

Ini selalu mengundang rinduku
setiap kali tatapmu membubung
karena kita tak pernah berani sendiri

Jalan – jalan di pematang
melihat- lihat
bukan keindahan alam
juga bukan jauhnya cakrawala

Ini selalu mengundang rinduku
setiap kalli hadirmu membuat mampu
karena kita tak pernah sungguh – sungguh
senang dengan sepi

Mricansari’93

Pitados

Tuhan
kita begitu dekat
sebagai api dan panas
aku panas dalam api Mu

Tuhan
kita begitu dekat
seperti kain denggan kapas
aku kapas dalam kain Mu

Tuhan
kita begitu dekat
seperti angin dengan arahnya
aku terbawa ke diri Mu

Tuhan
kita begitu dekat
dalam gelap
kini aku menyala
pada lampu padam Mu


Salam’92

Enteng

Tuhan,
Siapakah Engkau?
Dalam cinta ku dapatkan
dalam rindu ku temukan

Bagiku,
tak perlu tahu persisi siapa kamu
ketika aku merasa memilikimu
ketika aku merasa “bersetubuh” denganmu
ketika aku menangkap cintamu
katika aku mampu memberi cinta kepadamu

Di sini,
aku telah menemukan Mu


Sendangsono’91

Prahara

Setiap kali
kudengar
hujan runtuh dalam gelam
lalu esok pagi
di luar mimpi
daun – daun berserak
di tanah fajar

Tak ada yang jadi lain
katamu
musim sudah terbiasa
melepas suara
sunyi dalam sepi

Cemorosewu’92

Profisiat

Selamat…!
Sebuah kata yang tak pernah
keluar dari bibirmu.
Bahkan lebih menyakitkan
dari sebuah umpatan… bajingan!
bila keluar dari liang mulutmu
yang merupakan asal bencana.

Selamat…!
Inginya diriku mengucapkan
kata itu didepan wajahmu dan
akan aku bebani segudang kata
yang mewakili kesal hatiku
namun, sepertinya hati ini
tak mau diajak berdosa

Selamat…!
Karena aku berhasil mengucapkan
walau terasa berat dosaku kurasa
namun heran kamu masih mampu
mengumbar senyum didepan ucapan
Selamat…!

Narada’90

Rapuh

Dalam perjalanan aku menemukan mata air
Yang terjepit di sela-sela batu gunung
( kehausan mencekik tiba-tiba )
tapi aku yakin bukan ini yang kucari
mungki dia ada diatas sana

Aku juga bertemu pohon besar
kesejukan menggeliat dikerindangan daunnya
( keletihan menjerat tiba-tiba )
tapi aku yakin bukan ini yang kucari
mungki dia ada diatas sana

Aku juga dihadang oleh sebuah gua
mulutnya menganga dan kehangatan memancar darinya
( kedinginan mencekam tiba-tiba )
tapi aku tak mau yang satu ini
dan aku terus berjalan,
karena dia ada diatas sana, pasti!

Semeru’91

Realitas

Suatu saat toh harus ditinggalkan
dunia yang itu-itu juga
- Api petualangan telah pudar –
bayang-bayang dalam mimpi
senyum tanpa penjelasan kini
beberapa peristiwa tinggalkan asap
terurai ditelan awan


Beberapa nama, beberapa kejadian
beberapa tinta mengalir dan terbang
- Mengapa tidak –
menyeka debu dari buku, menemukan coretan
yang hampir musnah
jadi permainan yang hilang ketegangannya



Dunia ini nyata suatu permainan
dunia ini nyata suatu keheranan
keheranan dan penemuan
- Dunia ini nyata! -
sebentar lagi
anak-anak pulang dari pesta

Karimunjawa’93

Redup


Kupandangi pelita bernyala
lidah api mencoba dengan
gerak-gerik agak gugup
menghalau suasana suram
sambil berusaha sedapat mungkin
menghibur sang empunya kandil

Kupandangi pelita bernyala
yang karena bayangan terang gelap
terlalu kontras tampak lebih tua
lebih tandas garis-garis keriput usia
yang telah melewati senit lohor

Merasakan senja seperti ancaman
sekarang ini sebagai sikap
hidup yang begitu mejengkelkan
sekaligus begitu menyenangkan
pancaroba jiwa yang tak terduga dialami
hasrat melonjak dan nyaris padam
saling bersusulan

Apakah betul aku terasa renta?
dan bukan saatnya lagi mengejar-ngejar
rama-rama agar dapat dipeluk
seolah-olah hari esok
tak pernah berhenti
tak pernah berobah warna langitnya

Entahlah,
tak henti-henti dalam hati
terdengar suara menegur
Bahwa,
hari-hari gemilang bayangannya
telah menjadi tak tegak lurus
telah melewati puncak lohor


Hening Griya’ Mei 92

Sahaja

Tanpa cangkir di tangan, adakah air
tanpa piring di tangan, adakah nasi
tanpa tenaga di dalam, adakah usaha?

Mungkin kita tak butuh cangkir dan piring
mungkin yang kita butuhkan adalah kebersamaan

Tanpa pangkat di pundak, adakah martabat
tanpa bedil dikokang, adakah keberanian
tanpa perhiasan di badan, adakah kemegahan?

Mungkin kita tak butuh martabat dan keberanian
mungkin yang kita butuhkan adalah
ketentraman

Turgo’93

Sama-sama

Kita ini sama-sama dalam perjalanan
saya hampir sampai
kamu baru mulai

Kita ini dalam pendakian
kamu baru start
aku sudah lewat

Kini bertemu di tapak gunung
sebentar… lantas berpisah
Lihatlah aku bungkuk
(kebawah aku selalu menunduk)
Tetapi kau jangan tengadah ke puncak
tanyalah kehidupan dibawah
Carilah tongkat pembantu
asal tak justru mengganggu

Disana ada lembah dan jurang
tak luput kelokan-kelokan
jalan semu dan buntu
hutan belukar dan binatang liar
pesanku:
Siapkan bekal agar sampai
tanpa sesal


Gunung Slamet’93

Samar

Setitik harapan
yang dulu tersandar
kini tercecer di tengah jalan
semakin sirna memudar

Tertimbun oleh nafsu
terhalang oleh asap ambisi
menguap bersama panasnya tualang

Bunda…
Mengapa panggilan Putramu
tak begitu jelas
kudengar?!

Sendang’90

Siklus

Relakan dirimu basah
Oleh tetes embun pagi
Yang menempel di daun-daun
Agar resah mu…
Yang menggumpal dalam dada
Luntur bersama datangnya sinar pagi

Biarkan dirimu terbakar
Oleh sinar matahari
Yang terpancar di langit biru
Agar haus mu…
Akan arti hidup dan kerja
Menguap bersama datangnya sang rembulan

Biarkan dirimu terlelap
Oleh buaian sinar bulan
Yang menyusup di jendela hatimu
Agar karyamu…
Sepanjang hari ini mengalir
Dalam mimpi dan ucap syukur
Bersama datangnya hari baru

Kalikuning’ 93

Simbok

Aku lahir dari rumput segar
mandi tetes embun desaku
lalu menggeliat kekiri dan kekanan
ingin memeki kegelapan yang menyelimuti
agar menjadi terang
wajah sekeliling tampak tua
wajah ayah ibuku pun tak kukenal

Aku bawa kenang-kenangan masa kecil
menggumpal di bilik dan serambi jantungku
tak lebih besar dari kepalan tangan
meski kuat menahan detaknya
namun aku gemetar juga
waktu ku sentuh inderaku
dengan nafas kasih


Aku melihat langit melengkung di cakrawala
matahari muncul dan tenggelam
bulan datang dan pergi
ketika mereka bertemu ditengah gelap
mereka tertawa berkepanjangan
aku pun mulai kenal tangis
suara yang pernah aku dengar
jauh sebelum aku ada


Wonosari’92

Syahadat

Permulaan yang baik, kalau aku bangun pagi
dan beribadah dengan Tuhan, mengucap selamat pagi
menunggu mentari muncul, seperti menyongsong
harapan baru karena Dia bertahta

Kesejukan yang berarti kalau aku mandi pagi
dengan air dan berkah yang menyegarkan, serta
aku menyanyikan lagu pujian karena kerahiman-Nya

Kegarihaan yang penuh kalau aku dapat bekerja
dengan sungguh dan menghasilkan buah, bagi
diri sendiri, keluarga dan sesama…
dengan demikian orang tahu Tuhan menyertaiku

Istirahat yang menyembuhkan, kalau aku berhenti
dan diam dihadirat Mu, memandang wajah Nya, serta
mendengarkan Dia mengajar


Rawaseneng’92

Tersembunyi

Dalam setiap rawa-rawa lumpur
Tuhan masih menghadiahkan
bunga-bunga teratai
dalam setiap rimba gelap
Yang maha pengasih
masih menyediakan bunga anggrek
penderitaan yang dipikul bersama
adalah rahmatulah yang lebih berharga
dari pada seribu tawa kepasrahan

Perasaan pedih yang mendalam
menyusup, seperti biduk yang dikayuh
pelan-pelan menuju kelubuk hati terdalam
yang minggir-minggir
yang memohon agar jangan dilihat… diusik

Namun kesedihan mampu terimbangi oleh
gagasan, bahwa selama
masih ada rasa saling membagi
masih ada rasa saling memiliki
masih ada rasa saling menegur
kurasakan aku masih dapat mencicipi
secuil surga, dan aku mampu tersenyum syukur
syukkur yang berkadar malu
bahwa diantara jatuhku telah
menganugerahkan suatu kenyataan baru

Karangwaru’91

Usai Sudah

Pelabuhan tanpa kapal
hidupmu kini! Hanya nelayan
di tangan menggegam kail
berjam-jam menunggu
ikan-ikan yang tak pernah balik
dalam diammu
engkau memanggil

Dekat muara
jembatan beton setengah lingkaran
di bawah ada sungai lebar
air tak mengalir.
hidupmu kini! Menegakan kepala
dalam diammu
engkau memanggil

Langit biru laut biru
cuaca gerah pada siangnya
yang terdampar yang kandas juga
semua terbayang jelas disana
hidupmu kini! Tampak jelas
merenda-renda panggilan
dalam diammu.


Karimunjawa’93

Yang Berkembang

Tanpa pemotongan tali ari-ari
si bayi tidak mampu menjadi anak
tanpa disapih susu ibu
si anak tidak mampu menjadi pemuda
tanpa lepas dari orang tua
pemuda tak mampu menjadi dewasa

Setiap perpisahan selalu
menimbulkan luka-uka yang berbekas
dan ku tak ingin luka-lukaku kambuh
maka kuhirup udara hutan
maka kuhayati sawah yang ku lalui
maka kudengar suara burung dan angin
maka kusapa suara gemericik air kali

Ah… betapa menyegarkan
berada diantara mereka
dan semakin kurasa lukaku menjadi
membaik dan kuharap tak’kan berbekas
dan biarlah ia tumbuh menjadi
pribadi yang menjawab
panggilan hidupnya yang khas

Kuningan’92

Yang kodrati

Bukan sang bumi yang
menarik batu dan air dan
segala barang kearah dirinya
tanpa henti. Tanpa ampun jua
untuk dirangkul, untuk dipeluk
untuk dimasukan kearah dirinya
sampai manusia tanpa kecuali.


Bumilah pemeluk terakhir dan tuntas
Sesudah hayat terakhir terhembus
Maka jika wanita menarik
Menghimbau dan merangkul
Dengan mulut… dengan tangan
Dengan kaki… dengan seluruh dirinya
Maka, itulah ulah bumi pratiwi

Bukan nafsu!
Melainkan bakat dan
panggilan kodrat pratiwi, Sang Umayi
agar hidup semesta berlangsung
membaharui diri serta
mengejawantahkan dalam tunas-tunas baru

Ngrenean’92

Upacara

Upacara terlalu banyak tidak akan
Selalu lebih mulia dari kerja
Membantu-Mu sebisanya
Mengendalikan kemesraan
Tanpa bimbingan-Mu tak guna



Belum saatnya aku harus
Bernyanyi bangga hari ini
Akupun mencari langit dan
Suara buluh perindu
didalam kerinduanku pada-Mu
Bagaimana aku mengeraskan rindu
Agar…
Tiba ditangan-Mu pertama

Merbabu’92

Upacara 3

Kesetian pertama bukan upacara
Menghitung jalan gemerlap
Menimbang derita terlalu berat




Bagi-Mu…
Tamu datang ke pintu kecil
Tak layak lewat
dengan badan terlalu besar
Makan zat terlalu banyak
Tak mudah menembus
Pintu yang terlalu kecil



Biarlah rinduku jadi hamba
Agar jiwaku teringat
Kemesraan di pelangi langit kesadaran
Memandangi para penari
Menghentak gelang peraknya
Memanggil senyumku… memanggil riangku
Berarak dibawah mega.

Merbabu’92

Upacara 2

Kalau aku datang pada-Mu
Kiranya…
Ada pemberian yang tak kupunya
Apa yang kupunya
Terjaga pula oleh-Mu


Katanya, akan kau tolong
Orang berduka karena derita
Para pelajar dan orang bijak selalu
Menatap warna luas langit-Mu
Paling tinggi diantara pemuja.


Merbabu’92

Di Rumah Mu

Dengan getaran jiwa yang putus asa
Aku setubuhi masjid-masjid Mu
Ya Allah – ya Robbi
Dan ku ketuk-ketuk pintu gereja Mu
Ya Bapa – ya Putra
Katanya… itu semua rumah Mu

“Bukakan aku pintu,”
kataku kepada Mu
“Masuklah, pintu tidak dikunci,”
jawab Mu dengan ramah

Dengan setengah berjingkat
Aku jalan dihamparan permadani
Melihat berbagai perabot rumah Mu
Setelah lelah duduk di sofa sudut
Sambil memutar video kesayanganku

“Wah, itu rekaman perjalan hidupku
yang kotor dan kelabu,” batinku
dan segera ku matikan alat itu

Engkau yang duduk di sampingku
Hanya tersenyum tanpa mengomentari
Pertunjukan cerita hidupku
(Barangkali, Ia membathin, cerita
semacam itu sangat memuakkan
)

“Silahkan kopinya diminum,” kata Mu
dengan ramah…
tapi membuatku sangat gelisah...jengah
dan tidak betah berlama-lama
bertamu di rumah Mu

Jetis’94,

Datar

Burung-burung sentuh lembut sayap-sayap bebasmu
tak mampu mebuang kenang-kenangan pedihku.
Nafsu – bibir gemilang
tak lain dari dadamu murni

Nyanyikan bagiku, burung-burung lintas sekilas
yang mengundang bahagia dalam hutan terbakar
dan bangkit bagai lidah-lidah lonceng
dalam kebiruan yang merangkai jiwamu

Nyanyilah bagiku, burung-burung yang lahir tiap hari
dan memberi tahukan kemurnian dunia
dalam jeritmu.

Nyanyi, nyanyilah dan berbahagialah
bahwa telah kau bongkar aku seakar-akarnya
dan jangan lagi kembali ke bumi

Mbebeng’92

Daif

Sembari berjalan aku kenang engkau
dan tiba-tiba aku rindu untuk bercerita
dengan jujur…
tentang hidup yang aku bangun atas dosa
malu tapi tak berdaya
sakit tapi tak hendak bangkit

Bila tiba-tiba engkau ulurkan tangan
aku takut…
bila buta dan kehilangan dunia
karena engkau menuntut
(Jiwa memang penurut, tetapi badan lemah)

Sembari berhenti aku kenang engkau
dan tiba-tiba aku rindu bercumbu
dengan hangat…
dalam sukaku yang kau selimuti kearifan
aku menjadi berarti
setia dalam bakti dan janji

Bila tiba-tiba kau cobai aku, aku takut
bila tergoda dan tak dapat kembali
karena umpanmu nikmat
(Jiwa memang penurut, tetapi badan lemah)


Gunung Kucir’93

Bebas

Disini, diatas puncak gunung
kulihat embun pagi
berlarian diatas angin
kuhirup wewangian lumut
sementara matahari
mesra membasuh rerumputan

Disini, diatas puncak gunung
kulihat diriku
melayari lembah demi lembah
tanganku merentang
menggapai sejuta pepohonan
kuingin mereguk segalanya


Disini, diatas puncak gunung
kutersenyum membuat apa yang
aku lihat terasa bebas dan
diriku melambung tinggi
diarak-arak mega milik Mu

Merbabu’94

Bahwa

Kusangka dulu luka jiwaku
Tak’kan dapat sembuh lagi


Kusangka ku akan selalu
Putus harapan dan mati

Tapi waktu penawar yang sakti
Dapat menutup luka jiwaku
Dan diatas lukaku yang dulu
Tumbuh indah mawar cintaku

Mrican’91

Anomali

( Kapal kerta, kapal kertas
kulipat engkau dalam kehidupan
Kapal kertas- kapal kertas
mengatas sunyiku berkepenjangan
)

Kapal kertas yang mengurus badai laut
adalah kapal cintaku
yang senantiasa berkayuh kearahmu
Kapal kertas yang tengah diburu gelombang
adalah kapal jiwaku
yang merindukan kekaramannya di lautmu

Kapal kertas
di arus gelombang
deru yang bergema
ke daratan kelam
hanya gema. Hanya kelam

( Kapal kertas, kapal kertas
kulipat engkau dalam kenangan
Kapal kertas, kapal kertas
kulayarkan engkau dalam iman
)


Mricansari’93

Abdi Kasih

Dan jangan lagi kau ajak kau
mengembara jauh
ke malam yang dalam, gelam dan jelaga
mencari makna dari makna
hakekat yang hakiki

Aku ingin bangun pagi
menyambut matahari yang sejuk
dan mengucap salam kepada
seluruh penghuni alam
dan bersyukur kepada Illahi

Aku tak mau lagi menyusuri
jauh kedalam gua yang tak berujung
biarkan aku memandang
dari puncak gunung kehidupan
dari tepi pantai kedewasaan
yang segar, lincah dan murni
seperti anak gembala
bermain sepanjang hari

Parang Ndok’95