Datar

Burung-burung sentuh lembut sayap-sayap bebasmu
tak mampu mebuang kenang-kenangan pedihku.
Nafsu – bibir gemilang
tak lain dari dadamu murni

Nyanyikan bagiku, burung-burung lintas sekilas
yang mengundang bahagia dalam hutan terbakar
dan bangkit bagai lidah-lidah lonceng
dalam kebiruan yang merangkai jiwamu

Nyanyilah bagiku, burung-burung yang lahir tiap hari
dan memberi tahukan kemurnian dunia
dalam jeritmu.

Nyanyi, nyanyilah dan berbahagialah
bahwa telah kau bongkar aku seakar-akarnya
dan jangan lagi kembali ke bumi

Mbebeng’92

Daif

Sembari berjalan aku kenang engkau
dan tiba-tiba aku rindu untuk bercerita
dengan jujur…
tentang hidup yang aku bangun atas dosa
malu tapi tak berdaya
sakit tapi tak hendak bangkit

Bila tiba-tiba engkau ulurkan tangan
aku takut…
bila buta dan kehilangan dunia
karena engkau menuntut
(Jiwa memang penurut, tetapi badan lemah)

Sembari berhenti aku kenang engkau
dan tiba-tiba aku rindu bercumbu
dengan hangat…
dalam sukaku yang kau selimuti kearifan
aku menjadi berarti
setia dalam bakti dan janji

Bila tiba-tiba kau cobai aku, aku takut
bila tergoda dan tak dapat kembali
karena umpanmu nikmat
(Jiwa memang penurut, tetapi badan lemah)


Gunung Kucir’93

Bebas

Disini, diatas puncak gunung
kulihat embun pagi
berlarian diatas angin
kuhirup wewangian lumut
sementara matahari
mesra membasuh rerumputan

Disini, diatas puncak gunung
kulihat diriku
melayari lembah demi lembah
tanganku merentang
menggapai sejuta pepohonan
kuingin mereguk segalanya


Disini, diatas puncak gunung
kutersenyum membuat apa yang
aku lihat terasa bebas dan
diriku melambung tinggi
diarak-arak mega milik Mu

Merbabu’94

Bahwa

Kusangka dulu luka jiwaku
Tak’kan dapat sembuh lagi


Kusangka ku akan selalu
Putus harapan dan mati

Tapi waktu penawar yang sakti
Dapat menutup luka jiwaku
Dan diatas lukaku yang dulu
Tumbuh indah mawar cintaku

Mrican’91

Anomali

( Kapal kerta, kapal kertas
kulipat engkau dalam kehidupan
Kapal kertas- kapal kertas
mengatas sunyiku berkepenjangan
)

Kapal kertas yang mengurus badai laut
adalah kapal cintaku
yang senantiasa berkayuh kearahmu
Kapal kertas yang tengah diburu gelombang
adalah kapal jiwaku
yang merindukan kekaramannya di lautmu

Kapal kertas
di arus gelombang
deru yang bergema
ke daratan kelam
hanya gema. Hanya kelam

( Kapal kertas, kapal kertas
kulipat engkau dalam kenangan
Kapal kertas, kapal kertas
kulayarkan engkau dalam iman
)


Mricansari’93

Abdi Kasih

Dan jangan lagi kau ajak kau
mengembara jauh
ke malam yang dalam, gelam dan jelaga
mencari makna dari makna
hakekat yang hakiki

Aku ingin bangun pagi
menyambut matahari yang sejuk
dan mengucap salam kepada
seluruh penghuni alam
dan bersyukur kepada Illahi

Aku tak mau lagi menyusuri
jauh kedalam gua yang tak berujung
biarkan aku memandang
dari puncak gunung kehidupan
dari tepi pantai kedewasaan
yang segar, lincah dan murni
seperti anak gembala
bermain sepanjang hari

Parang Ndok’95