Profisiat

Selamat…!
Sebuah kata yang tak pernah
keluar dari bibirmu.
Bahkan lebih menyakitkan
dari sebuah umpatan… bajingan!
bila keluar dari liang mulutmu
yang merupakan asal bencana.

Selamat…!
Inginya diriku mengucapkan
kata itu didepan wajahmu dan
akan aku bebani segudang kata
yang mewakili kesal hatiku
namun, sepertinya hati ini
tak mau diajak berdosa

Selamat…!
Karena aku berhasil mengucapkan
walau terasa berat dosaku kurasa
namun heran kamu masih mampu
mengumbar senyum didepan ucapan
Selamat…!

Narada’90

Rapuh

Dalam perjalanan aku menemukan mata air
Yang terjepit di sela-sela batu gunung
( kehausan mencekik tiba-tiba )
tapi aku yakin bukan ini yang kucari
mungki dia ada diatas sana

Aku juga bertemu pohon besar
kesejukan menggeliat dikerindangan daunnya
( keletihan menjerat tiba-tiba )
tapi aku yakin bukan ini yang kucari
mungki dia ada diatas sana

Aku juga dihadang oleh sebuah gua
mulutnya menganga dan kehangatan memancar darinya
( kedinginan mencekam tiba-tiba )
tapi aku tak mau yang satu ini
dan aku terus berjalan,
karena dia ada diatas sana, pasti!

Semeru’91

Realitas

Suatu saat toh harus ditinggalkan
dunia yang itu-itu juga
- Api petualangan telah pudar –
bayang-bayang dalam mimpi
senyum tanpa penjelasan kini
beberapa peristiwa tinggalkan asap
terurai ditelan awan


Beberapa nama, beberapa kejadian
beberapa tinta mengalir dan terbang
- Mengapa tidak –
menyeka debu dari buku, menemukan coretan
yang hampir musnah
jadi permainan yang hilang ketegangannya



Dunia ini nyata suatu permainan
dunia ini nyata suatu keheranan
keheranan dan penemuan
- Dunia ini nyata! -
sebentar lagi
anak-anak pulang dari pesta

Karimunjawa’93

Redup


Kupandangi pelita bernyala
lidah api mencoba dengan
gerak-gerik agak gugup
menghalau suasana suram
sambil berusaha sedapat mungkin
menghibur sang empunya kandil

Kupandangi pelita bernyala
yang karena bayangan terang gelap
terlalu kontras tampak lebih tua
lebih tandas garis-garis keriput usia
yang telah melewati senit lohor

Merasakan senja seperti ancaman
sekarang ini sebagai sikap
hidup yang begitu mejengkelkan
sekaligus begitu menyenangkan
pancaroba jiwa yang tak terduga dialami
hasrat melonjak dan nyaris padam
saling bersusulan

Apakah betul aku terasa renta?
dan bukan saatnya lagi mengejar-ngejar
rama-rama agar dapat dipeluk
seolah-olah hari esok
tak pernah berhenti
tak pernah berobah warna langitnya

Entahlah,
tak henti-henti dalam hati
terdengar suara menegur
Bahwa,
hari-hari gemilang bayangannya
telah menjadi tak tegak lurus
telah melewati puncak lohor


Hening Griya’ Mei 92

Sahaja

Tanpa cangkir di tangan, adakah air
tanpa piring di tangan, adakah nasi
tanpa tenaga di dalam, adakah usaha?

Mungkin kita tak butuh cangkir dan piring
mungkin yang kita butuhkan adalah kebersamaan

Tanpa pangkat di pundak, adakah martabat
tanpa bedil dikokang, adakah keberanian
tanpa perhiasan di badan, adakah kemegahan?

Mungkin kita tak butuh martabat dan keberanian
mungkin yang kita butuhkan adalah
ketentraman

Turgo’93

Sama-sama

Kita ini sama-sama dalam perjalanan
saya hampir sampai
kamu baru mulai

Kita ini dalam pendakian
kamu baru start
aku sudah lewat

Kini bertemu di tapak gunung
sebentar… lantas berpisah
Lihatlah aku bungkuk
(kebawah aku selalu menunduk)
Tetapi kau jangan tengadah ke puncak
tanyalah kehidupan dibawah
Carilah tongkat pembantu
asal tak justru mengganggu

Disana ada lembah dan jurang
tak luput kelokan-kelokan
jalan semu dan buntu
hutan belukar dan binatang liar
pesanku:
Siapkan bekal agar sampai
tanpa sesal


Gunung Slamet’93