Pasrah

Membiarkan pikiran mengelana
sementara waktu merangkak
antara kemarin dan esok

Membiarklan sepi menggila
sementara pagi menjelang
antara kampung halaman dan kota tujuan











Membiarkan harapan mengembang
membiarkan hari lewat tanpa rencana
membiarkan hati putih tanpa rahasia

Membiarkan keikhlasan menggenang
menerima yang mustahil ditolak
menemukan hikmah dari beban

Magelang’93

Penantian

Dipenghujung waktu yang tak terbatas
Selalu dan pasti bahwa
Seseorang akan datang
Tapi, sepertinya aku masih enggan
Dan kadang pintu tak aku buka
Tapi desaran jiwa dan
Desaran rasa…
Memaksa aku untuk berbendah

Kuambil jiwa dan hatiku
Lalu kuperas dan kubilas
Agar hilang dan bersih dari
Rasa suka dan nestapa
Rasa salah dan menang
Rasa gagal dan congkak


Lalu kupasang pada tempat
Yang lebih baik dari dulu
Dan lebih terasa deburan
Jiwaku… hatiku… dan hidupku
Tapi, sepertinya penantianku
Terasa sia-sia
Dan jiwaku kembali
Muspro dan mubasir

Jogja’95

Pertemuan

Ini selalu mengundang rinduku
setiap kali katamu membuat haru
karena kita tak pernah menyentuh waktu

Duduk di beranda
ngomong – ngomong
bukan tentang cinta yang tak terwujud
bukan tentang perjuangan yang berat
juga bukan tentang banyak arti

Ini selalu mengundang rinduku
setiap kali tatapmu membubung
karena kita tak pernah berani sendiri

Jalan – jalan di pematang
melihat- lihat
bukan keindahan alam
juga bukan jauhnya cakrawala

Ini selalu mengundang rinduku
setiap kalli hadirmu membuat mampu
karena kita tak pernah sungguh – sungguh
senang dengan sepi

Mricansari’93

Pitados

Tuhan
kita begitu dekat
sebagai api dan panas
aku panas dalam api Mu

Tuhan
kita begitu dekat
seperti kain denggan kapas
aku kapas dalam kain Mu

Tuhan
kita begitu dekat
seperti angin dengan arahnya
aku terbawa ke diri Mu

Tuhan
kita begitu dekat
dalam gelap
kini aku menyala
pada lampu padam Mu


Salam’92

Enteng

Tuhan,
Siapakah Engkau?
Dalam cinta ku dapatkan
dalam rindu ku temukan

Bagiku,
tak perlu tahu persisi siapa kamu
ketika aku merasa memilikimu
ketika aku merasa “bersetubuh” denganmu
ketika aku menangkap cintamu
katika aku mampu memberi cinta kepadamu

Di sini,
aku telah menemukan Mu


Sendangsono’91

Prahara

Setiap kali
kudengar
hujan runtuh dalam gelam
lalu esok pagi
di luar mimpi
daun – daun berserak
di tanah fajar

Tak ada yang jadi lain
katamu
musim sudah terbiasa
melepas suara
sunyi dalam sepi

Cemorosewu’92