Mantenan

Berdir memandang laut Mu Tuhan
diam – diam engkau turunkan sauh
ke pelabuhan dalam hatiku

Sebuah kapal malaekat
telah singgah berlabuh
dan mencatat hari – hariku yang pergi

Kian dekat buritan mimpiku
ranum helai – helai waktu yang kutinggal

Setelah ombak dan buih
bergegas meninggalkan pantai dan dermaga
kamanakah kasih,
terbang burung indah itu?

Berdiri membaca langit Mu Tuhan
aku hanya sebutir biji Mu
yang tumbuh menenun kehidupan
dan benang – benang kasih Mu

Semarang’02

Mbuh!

Ada bahasa menyembunyikan kata
dan menidurkan pada rumput ilalang

Siul asing terpelanting dari pohon
lalu pecah menjadi kalimat
dalam daun-daun

Ada percakapan purba kini
ungkapan yang tersimpan didasar
serta bisik-bisik
yang tersirat dijagat
demikian langit dan bumi
hembusan kata yang misteri
dengan bahasa yang tak kukenal

Tat kala memandang kedalam
diriku hanyalah sebuah titik terapung
diantara gelombang
rahasia yang sulit aku terjemahkan
dengan bahasa


Sindoro’92

Munafik

Burung kecil itu mulai bernyanyi kembalil
di depan jendelamu,
“Usirlah dia,” katamu
biar saja ia bernyanyi diantara bunga-bunga jambu
sedang kita tak bisa bernyanyi
sebab terlalu jauh menapsir mimpi
selalu gugup melihat bayang-bayang sendiri
kita tak pernah bernyanyi, hanya
diam-diam mempertaruhkan masa depan
kemarinpun ia tlah bernyanyi
tepat ketika kau buka jendelamu

Sebab tlah dibangun sebuah sarang
bagi telur-telurnya sedangkan
kita selalu curiga
terhadap kasih alam, selalu ingin
membebeaskan diri dari jala
yang berkembang lembut
biarkan saja ia bernyanyi
takkan dinganggunya rencana kita hari ini

Ia hanya bernyanyi tak pernah ia tahu
bahwa, seseorang kadang ingin memisahkan
diri dari dirinya sendiri
burung kecil itu mulai bernyanyi kembali
jangan takut: smoga anak-anak yang kau lahirkan
bisa lebih mengenal dirinya sendiri


Pondok’93

Pasarean

Pondok kecil di desa terpencil
tak pernah sepi suara tembang
senandung kidung bocah dolanan
sejuk rasa dalam senyum

Pondok putih taman bunga
bunga putih bunga kamboja
dada mekar memandang angin

Kan kutanam bunga
kusiran air surga
penyejuk sukma
agar nanti indah ajalku

Pondok putih
bunga putih
bocah dolanan
menyatu dalam rumah Bapa


Tekelan’93

Naturalis

Kaum pecinta gua garba gaib
Hutan serta gunung
Imam-imam angkasa tahu
Apa artinya kebudayaan
Apa artinya mistik
Apa artinya perbincangan yang mendalam

Olah nalar dan olah rasa
Olah sastra dan olah gerak
Menjadi keyakinan pribadi
Selaku hasil sekian banyak sarasehan
Dalam malam-malam bulan purnama
Ditengah alam yang masih buas
Tetapi yang juga yang masih murni
Yang seolah-olah memohon
Agar hukum rimba,
Mendapat penciptaan kembali secara baru
Memperoleh permahkotaannya dalam
Hukum kebudayaan : Manusia
Mahkluk paling tinggi dipersada bumi
Paling sadar tentang jati diri
Serta cinta bahasa.

Semeru’93

Nisbi

Siapa didalam aku
Siapa didalam ia
Bekerja tak putus-putusnya

Siapa didalam aku
Yang didalam ia
Terasing sendiri
Hidup disepi kami

Aku rapuh dia goyah
Tapi selalu dikuatkan
Ketika merasa sentausa
Dengan takabur kami tendang ia

Siapa…
Yang tidak selalu ketawa
Ketika kami ketawa
Yang mendengar tangis kita
Dengan sabar

Dia…
Terus membisu,
Terus merencana,
Bekerja diam-diam
Tak kan pernah bisa
Kumunculkan benar-benar kepermukaan


Kali Kuning’93