Goblok!

Sos…!!
Tolong… tolong!
Aku tersel dalam kegelapan
Dengan tembok nafsu yang tebal
Aku gerah…
Aku tak betah…
Disini sumpek dan pengan sekali

Hai…!
Bukakan aku pintu!
Ehm, kudengar suara dari luar
“Mana bisa, kunci kau bawa sendiri..”
Aku tersadar
Hanya aku yang bisa
Membuka pintu sendiri
tapi peringatanmu sobat
sangat berharga.

Tempel’95

Hakekat

Kubayangkan aku hadir
Ketika Yesus pertama kali
Bertemu Petrus
Dan menamakannya “batu Karang”

Kulihat peristiwa itu terjadi
Bukan dimasa lampau
Namu… sekarang
Aku tak hanya menonton saja
Aku menaggapi
Akuk ikut serta

Seperti Petrus
aku ingat hari ketika
yesus memanggil aku juga
lalu Petrus mengungkapan
perasaannya dan ketakutannya
Ia menghadapi mati dini hari

Suara panggilan terus mengumandang
Setiap hari diabawanya aku entah
Kemana…
Baru ku tahu kemudian
Aku dipanggil untuk apa
Hari ini…

Suara yang menyapa Petrus
Di tepi danau
Suara yang menyapa Paulus
Di tepi danau
Menyapa aku juga saat ini
“Mari… engkau akan Aku utus,”

Kurasa kau mendengar suara itu
Menggema dalam hatiku
Tak tahu aku dipanggil kemana
Tapi kukenal suara itu
Dan kuberikan jawabanku…

Salatiga’90

Kangen

Betapa aku cari
rumput - rumput hijau
kepak burung mengejar surya
diatas bukit ini

Menguak sepi demi sepi
di sela semak kering
yang tandus dan keras
jalan setapak mendaki

Tak juga desir angin
gerak bayangan
dirimu yang terus
melebarkan angan-angan
ikut menanjak tinggi

Betapa aku cari
di sela batu – batu
di dalam gumpalan katamu
merenungi! Engkau yang terhampar disana
jauh di bawah
kaki dan lembah


Semeru’93

Kita Pernah Salah

Batu nisan yang kita tanam dulu
sepertinya tak mampu mewakili
hati kita yang nyata
bahkan dia tersenyum mengejek kita
yang tlah salah menanam pohon cinta
diantara reruntuhan hati…
diantara keraguan jiwa…

Mungkin, kita baru menyadari atau
kita tak pernah sadar tentang kenyataan
yang tergambar dari batu nisan kita

Seharusnya…
Kita cabut bersama dan
kita tanam pohon dari tunas yang berkas
dan kita pellihara hingga kita
mampu berteduh dibawah kerindangan
daun cintanya

Namun…
Batu nisan yang tlah kita tanam
semakin lama semakin berlumut dan
semakin lama semakin gersang
membuat kita tak betah berlama-lama
diam dalam cintanya yang terbias
yang kita tanam bersama



Cemoro Sewu’93

Maaf

Di tinkungan menjelang
Gerbang barat kota
Masih kami ingat sorot matanya
Tajam penuh sikap
Masih kami catat tutur katanya
Sejuk penuh hikmat

Masih kami ingat ikal rambutnya
Tergerai dalam debu dan darah
Masih kami hafal khobatnya
Masih kami kenang perumpamaanya
Masih kami simpan mukjizatnya

Kini…
Di tikungan itu
Kami mcuma bisa meratap dan berdoa
Engkau yang rahmani
Kini tersalib mati
Aku tlah menyalibkan Engkau
Sebab aku hanya dapat berkata
Ya, akulah Yudas Iskariot!

Jetis, 92