Yang Berkembang

Tanpa pemotongan tali ari-ari
si bayi tidak mampu menjadi anak
tanpa disapih susu ibu
si anak tidak mampu menjadi pemuda
tanpa lepas dari orang tua
pemuda tak mampu menjadi dewasa

Setiap perpisahan selalu
menimbulkan luka-uka yang berbekas
dan ku tak ingin luka-lukaku kambuh
maka kuhirup udara hutan
maka kuhayati sawah yang ku lalui
maka kudengar suara burung dan angin
maka kusapa suara gemericik air kali

Ah… betapa menyegarkan
berada diantara mereka
dan semakin kurasa lukaku menjadi
membaik dan kuharap tak’kan berbekas
dan biarlah ia tumbuh menjadi
pribadi yang menjawab
panggilan hidupnya yang khas

Kuningan’92

Yang kodrati

Bukan sang bumi yang
menarik batu dan air dan
segala barang kearah dirinya
tanpa henti. Tanpa ampun jua
untuk dirangkul, untuk dipeluk
untuk dimasukan kearah dirinya
sampai manusia tanpa kecuali.


Bumilah pemeluk terakhir dan tuntas
Sesudah hayat terakhir terhembus
Maka jika wanita menarik
Menghimbau dan merangkul
Dengan mulut… dengan tangan
Dengan kaki… dengan seluruh dirinya
Maka, itulah ulah bumi pratiwi

Bukan nafsu!
Melainkan bakat dan
panggilan kodrat pratiwi, Sang Umayi
agar hidup semesta berlangsung
membaharui diri serta
mengejawantahkan dalam tunas-tunas baru

Ngrenean’92

Upacara

Upacara terlalu banyak tidak akan
Selalu lebih mulia dari kerja
Membantu-Mu sebisanya
Mengendalikan kemesraan
Tanpa bimbingan-Mu tak guna



Belum saatnya aku harus
Bernyanyi bangga hari ini
Akupun mencari langit dan
Suara buluh perindu
didalam kerinduanku pada-Mu
Bagaimana aku mengeraskan rindu
Agar…
Tiba ditangan-Mu pertama

Merbabu’92

Upacara 3

Kesetian pertama bukan upacara
Menghitung jalan gemerlap
Menimbang derita terlalu berat




Bagi-Mu…
Tamu datang ke pintu kecil
Tak layak lewat
dengan badan terlalu besar
Makan zat terlalu banyak
Tak mudah menembus
Pintu yang terlalu kecil



Biarlah rinduku jadi hamba
Agar jiwaku teringat
Kemesraan di pelangi langit kesadaran
Memandangi para penari
Menghentak gelang peraknya
Memanggil senyumku… memanggil riangku
Berarak dibawah mega.

Merbabu’92

Upacara 2

Kalau aku datang pada-Mu
Kiranya…
Ada pemberian yang tak kupunya
Apa yang kupunya
Terjaga pula oleh-Mu


Katanya, akan kau tolong
Orang berduka karena derita
Para pelajar dan orang bijak selalu
Menatap warna luas langit-Mu
Paling tinggi diantara pemuja.


Merbabu’92

Di Rumah Mu

Dengan getaran jiwa yang putus asa
Aku setubuhi masjid-masjid Mu
Ya Allah – ya Robbi
Dan ku ketuk-ketuk pintu gereja Mu
Ya Bapa – ya Putra
Katanya… itu semua rumah Mu

“Bukakan aku pintu,”
kataku kepada Mu
“Masuklah, pintu tidak dikunci,”
jawab Mu dengan ramah

Dengan setengah berjingkat
Aku jalan dihamparan permadani
Melihat berbagai perabot rumah Mu
Setelah lelah duduk di sofa sudut
Sambil memutar video kesayanganku

“Wah, itu rekaman perjalan hidupku
yang kotor dan kelabu,” batinku
dan segera ku matikan alat itu

Engkau yang duduk di sampingku
Hanya tersenyum tanpa mengomentari
Pertunjukan cerita hidupku
(Barangkali, Ia membathin, cerita
semacam itu sangat memuakkan
)

“Silahkan kopinya diminum,” kata Mu
dengan ramah…
tapi membuatku sangat gelisah...jengah
dan tidak betah berlama-lama
bertamu di rumah Mu

Jetis’94,