Samar

Setitik harapan
yang dulu tersandar
kini tercecer di tengah jalan
semakin sirna memudar

Tertimbun oleh nafsu
terhalang oleh asap ambisi
menguap bersama panasnya tualang

Bunda…
Mengapa panggilan Putramu
tak begitu jelas
kudengar?!

Sendang’90

Siklus

Relakan dirimu basah
Oleh tetes embun pagi
Yang menempel di daun-daun
Agar resah mu…
Yang menggumpal dalam dada
Luntur bersama datangnya sinar pagi

Biarkan dirimu terbakar
Oleh sinar matahari
Yang terpancar di langit biru
Agar haus mu…
Akan arti hidup dan kerja
Menguap bersama datangnya sang rembulan

Biarkan dirimu terlelap
Oleh buaian sinar bulan
Yang menyusup di jendela hatimu
Agar karyamu…
Sepanjang hari ini mengalir
Dalam mimpi dan ucap syukur
Bersama datangnya hari baru

Kalikuning’ 93

Simbok

Aku lahir dari rumput segar
mandi tetes embun desaku
lalu menggeliat kekiri dan kekanan
ingin memeki kegelapan yang menyelimuti
agar menjadi terang
wajah sekeliling tampak tua
wajah ayah ibuku pun tak kukenal

Aku bawa kenang-kenangan masa kecil
menggumpal di bilik dan serambi jantungku
tak lebih besar dari kepalan tangan
meski kuat menahan detaknya
namun aku gemetar juga
waktu ku sentuh inderaku
dengan nafas kasih


Aku melihat langit melengkung di cakrawala
matahari muncul dan tenggelam
bulan datang dan pergi
ketika mereka bertemu ditengah gelap
mereka tertawa berkepanjangan
aku pun mulai kenal tangis
suara yang pernah aku dengar
jauh sebelum aku ada


Wonosari’92

Syahadat

Permulaan yang baik, kalau aku bangun pagi
dan beribadah dengan Tuhan, mengucap selamat pagi
menunggu mentari muncul, seperti menyongsong
harapan baru karena Dia bertahta

Kesejukan yang berarti kalau aku mandi pagi
dengan air dan berkah yang menyegarkan, serta
aku menyanyikan lagu pujian karena kerahiman-Nya

Kegarihaan yang penuh kalau aku dapat bekerja
dengan sungguh dan menghasilkan buah, bagi
diri sendiri, keluarga dan sesama…
dengan demikian orang tahu Tuhan menyertaiku

Istirahat yang menyembuhkan, kalau aku berhenti
dan diam dihadirat Mu, memandang wajah Nya, serta
mendengarkan Dia mengajar


Rawaseneng’92

Tersembunyi

Dalam setiap rawa-rawa lumpur
Tuhan masih menghadiahkan
bunga-bunga teratai
dalam setiap rimba gelap
Yang maha pengasih
masih menyediakan bunga anggrek
penderitaan yang dipikul bersama
adalah rahmatulah yang lebih berharga
dari pada seribu tawa kepasrahan

Perasaan pedih yang mendalam
menyusup, seperti biduk yang dikayuh
pelan-pelan menuju kelubuk hati terdalam
yang minggir-minggir
yang memohon agar jangan dilihat… diusik

Namun kesedihan mampu terimbangi oleh
gagasan, bahwa selama
masih ada rasa saling membagi
masih ada rasa saling memiliki
masih ada rasa saling menegur
kurasakan aku masih dapat mencicipi
secuil surga, dan aku mampu tersenyum syukur
syukkur yang berkadar malu
bahwa diantara jatuhku telah
menganugerahkan suatu kenyataan baru

Karangwaru’91

Usai Sudah

Pelabuhan tanpa kapal
hidupmu kini! Hanya nelayan
di tangan menggegam kail
berjam-jam menunggu
ikan-ikan yang tak pernah balik
dalam diammu
engkau memanggil

Dekat muara
jembatan beton setengah lingkaran
di bawah ada sungai lebar
air tak mengalir.
hidupmu kini! Menegakan kepala
dalam diammu
engkau memanggil

Langit biru laut biru
cuaca gerah pada siangnya
yang terdampar yang kandas juga
semua terbayang jelas disana
hidupmu kini! Tampak jelas
merenda-renda panggilan
dalam diammu.


Karimunjawa’93